Australia Tambah Rp 32,8 T

Jawa Pos, 20 Februari 2008
JAKARTA – Sektor tambang masih menjadi magnet kuat untuk menarik investor mancanegara. Kali ini, Australia menyatakan siap menambah investasi mereka di sektor pertambangan senilai AUD 4 miliar (sekitar Rp 32,8 triliun).

Sekretaris Pertama Komisi Dagang Australia Craig Senger mengatakan, investasi AUD 4 miliar akan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asal Australia yang saat ini sudah berusaha di tanah air. “Ada lima perusahaan yang siap menambah investasi,” ujarnya di sela Pembukaan Pameran dan Konferensi Pertambangan Australia di Jakarta kemarin (19/2).

Sayangnya, Senger belum bersedia menjelaskan nama-nama perusahaan Australia yang akan menambah investasi mereka, serta kapan investasi tersebut direalisasikan. “Masih dalam tahap studi. Jadi, belum bisa kita sampaikan lokasi proyeknya, kapan dan siapa investornya,” katanya.

Saat ini, total investasi Negeri Kanguru di Indonesia mencapai AUD 3,1 miliar. Investasi tersebut melalui 400 perusahaan yang ada di Indonesia. Sementara investasi Indonesia di Australia tercatat AUD 487 juta. Terkait neraca perdagangan antar-dua negara, Senger mengatakan, sepanjang 2006-2007, mencapai AUD 10,4 miliar.

Indonesia saat ini menikmati surplus perdagangan barang dengan Australia AUD 135 juta, dengan komoditas utama minyak mentah, emas non-moneter, jasa perjalanan, kertas dan produk kertas, serta kayu olahan sederhana. “Ke depan, kerja sama akan kita tingkatkan,” terangnya.

Komitmen tersebut mendapat tanggapan positif dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, sektor pertambangan memang potensial dikembangkan. Karena itu, berbagai permasalahan yang menghambat pengembangan sektor tambang terus dicari solusinya. “Salah satunya terkait tumpang tindih lahan,” ujarnya.

Menurut Dirjen Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon F. Sembiring, saat ini peraturan pemerintah (PP) tentang penggunaan hutan untuk aktivitas tambang sudah disetujui Menteri ESDM, Menteri Kehutanan, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. “Intinya, ada kompensasi untuk lahan yang digunakan,” katanya.

Simon menambahkan, rencana investasi perusahaan Australia Rio Tinto untuk tambang nikel di Lasamphala, Sulawesi, saat ini sudah mencapai kemajuan berarti. Masalah pajak yang selama ini menjadi ganjalan, sudah menemukan kata sepakat. “Rencananya, mereka akan inves USD 2 miliar,” imbuhnya. (owi/oki)

Tinggalkan Balasan