Mendulang potensi industri kelapa sawit

Bisnis Indonesia, 9 Februari 2008
Harga minyak sawit saat ini dikaitkan dengan harga minyak dunia. Hal ini bisa jadi merupakan kabar yang menggembirakan sekaligus hal yang harus mendapat perhatian serius bagi kita semua bagi pelaku, perbankan, dan penentu kebijakan.

Sebenarnya, tumbuhan yang berasal dari belahan dunia lain yakni Afrika dan dibawa oleh� para pedagang dari Belanda pada abad ke-18 ke Indonesia, awalnya sebanyak empat biji ditanam di Kebun Raya. Ternyata tanaman ini memang cocok ditumbuhkembangkan di kawasan equator belt, sehingga di Indonesia bisa tumbuh dengan baik dan produktif.

Potensi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) di Tanah Air sangatlah besar baik dari luas areal perkebunan yang dapat ditanam kelapa sawit itu sendiri maupun produk hasil olahan dari kelapa sawit, mulai dari minyak sawit, industri oleo chemical, sampai kepada proyek clean development mechanism (CDM).

Jika dilihat potensi alam, pada 2006 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 6,07 juta hektar yang tersebar di 19 provinsi. Data Ditjen Perkebunan menunjukkan Sumatera memiliki areal perkebunan kelapa sawit terbesar 4,58 juta hektar atau 75,4% dari total areal yang ada. Sementara itu, Kalimantan di posisi kedua dengan 1,27 juta hektar atau 20,8%, diikuti oleh Sulawesi, Jawa, dan Papua.

Sejumlah perusahaan, baik swasta maupun BUMN menggarap areal perkebunan yang sangat luas.� Beberapa di antaranya seperti PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Asian Agri, PT SMART Tbk, PT Bakrie Sumatera Plantation, PT Perkebunan London Sumatera Tbk, Sucfindo Group, dan Kurnia Group. Sementara itu, pemerintah mempunyai PT Perkebunan Nasional (PTPN) II, III, IV, V, VII, dan XIII.�

Jika dilihat perkembangan produksi minyak sawit, data Ditjen Perkebunan menunjukkan� angka 11,86 juta ton pada 2005. Ini berasal dari perkebunan rakyat (4,50 juta ton), perkebunan negara (1,45 juta ton), dan perkebunan swasta (5,91 juta ton). Produksi itu melonjak cukup signifikan menjadi 13,39 juta ton pada 2006. Sementara itu, diperkirakan produksi kembali meningkat sampai akhir tahun ini pada angka 14,15 juta ton.�

Bahkan pada 2008, produksi CPO diprediksikan meningkat menjadi 15,12 juta ton yang di antaranya disebabkan penambahan areal panen dan membaiknya produktivitas tanaman yang dipanen. Luas areal tanaman kelapa sawit diperkirakan bertambah sekitar 300.000 hektare tahun depan.

Potensi ini makin menggiurkan jika dilihat harga CPO di pasar dunia cenderung naik. Padahal sebenarnya lonjakan harga minyak sawit ini baru terjadi pada Februari 2007 sampai sekarang. Periode 2005-2006, harga CPO relatif stabil pada kisaran US$420-US$477 per ton.

Salah satu faktor yang memengaruhi harga CPO antara lain karena CPO saat ini dipandang sebagai sumber bahan bakar alternatif yang akhir-akhirnya semakin dicari sejalan dengan terus melonjaknya harga minyak bumi.�

Proyek CDM

Perkembangan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran penggunaan CPO dari minyak makan menjadi bahan baku pembuatan biofuel dan produk lainnya yang masuk dalam proyek clean development mechanism (CDM).

Proyek CDM sendiri menjadi alternatif investasi bagi lembaga keuangan internasional dengan memperjualbelikan sertifikat yang diterbitkan atas proyek tergolong CDM.� Proyek CDM termasuk di dalamnya renewable energy dengan menggunakan dan mengembangkan pembangkit tenaga listrik berbahan bakar non fosil seperti biofuels, geothermal, hydro, biogas.�

Selain itu, methane capture yang dilakukan melalui pengelolaan sampah perkebunan, air limbah produksi, sisa produksi di daerah penambangan batu bara, kotoran hewan. Proyek CDM lainnya seperti energy efficiency melalui penggunaan lampu TL bukan lampu pijar, fuel switching melalui konversi BBM dengan gas.

Bagi perbankan kredit ke perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit bukan merupakan hal yang baru dilakukan akhir-akhir ini saja. Karena sebenarnya penyaluran kredit bank ke sektor perkebunan sudah berjalan sejak lama.

Sejumlah skema kredit, baik kredit modal kerja maupun kredit investasi, telah dinikmati para pemilik perkebunan baik perkebunan negara, perkebunan swasta nasional maupun perkebunan rakyat.�

Meskipun industri CPO memiliki setumpuk potensi yang menjanjikan namun sejumlah permasalahan masih mewarnai industri ini. Tekanan masyarakat internasional melalui LSM yang ditujukan kepada konsumen dan bank-bank internasional antara lain tudingan bahwa perkebunan sawit merusak hutan dan lingkungan yang dapat membahayakan satwa yang dilindungi.

Selain itu, persaingan di pasar baik dengan produk minyak kedelai maupun produk serupa dari Malaysia. Juga pengaruh pajak ekspor (PE) terhadap perkembangan harga CPO di dalam negeri.

Di sisi lain, masalah pembiayaan umum yang muncul lebih disebabkan oleh faktor prospek usaha, kesinambungan bahan baku, dan agunan. Di beberapa daerah, seperti Riau, pabrik kelapa sawit tanpa kebun terkendala oleh kurangnya bahan baku, persaingan yang tidak sehat dan risiko bad debt. Masalah gangguan keamanan dan banyaknya perda dalam kaitan otonomi daerah masih menjadi momok industri ini.

Kendala lain yang muncul, yakni kondisi keuangan perusahaan yang ada di jalur sawit sudah cash-riched. Secara tunai mereka tidak membutuhkan pendanaan bank. Kalaupun memerlukan dana lebih memilih mencari di pasar modal karena mekanisme pasar modal ini lebih murah dibandingkan dengan bank.

Ke depan, nampaknya peran perbankan dalam pembiayaan kepada sektor kelapa sawit tidak hanya pada pembiayaan perkebunan yang tradisional tetapi juga dapat dikaitkan dengan pembiayaan proyek CDM, apakah itu dalam bentuk pembiayaan proyek methane capture atau proyek renewable energy.�

Peran bank di sini di antaranya bertindak sebagai risk management partner di mana perbankan dan perusahaan asuransi dapat menyediakan pembiayaan investasi dan mengasuransi proyek CDM. Di samping dapat juga bertindak sebagai trustee and security agency dalam proyek tersebut.

Oleh Arifin Indra S
Ketua Bidang Luar Negeri Perbanas dan Direktur Utama Bank Ekspor Indonesia

Tinggalkan Balasan